Perempuam tua itu termenung.
Perempuan tua itu termenung .
Menatap kosong hamparan tanah .
Tanah berlubang besar,liang lahat.
Tanah tempat peti-peti bernama dan tak bernama berjejer diam.
Tempat peti-peti dikuburkan.
Perempuan tua itu termenung.
Ia tidak bisa menangis,airmatanya sudah kering.
Ia tidak bisa berteriak, suaranya sudah habis oleh teriakan histerisnya berhari-hari.
Ia hanya bisa menatap kosong dan hampa pada tanah di depannya.
Perempuan tua itu menunduk.
Duduk berjongkok, mencakari tanah dengan tangannya yang tua dan keriput.
Mencakari tanah dengan segenap emosi di dirinya.
Melampiaskan rasa sakit oleh kehilangan.
Meledakkan kemarahan atas apa yang terjadi pada kehidupan tuanya yang sendirian.
Mengeluhkan kekecewaan atas hidupnya .
Ditatapnya hampa peti-peti bernama itu.
Peti -peti dimana terbaring anak,cucu,menantu dan suami tercintanya.
Terbaring disana orang-orang yang dikenalnya sepanjang hidupnya.
Meninggalkan dirinya sendirian dalam kehampaan dan kekosongan.
Perempuan itu tidak juga berhenti mencakari tanah.
Tidak mau berhenti dan bahkan tak ada yang bisa menghentikan.
Perempuan tua itu makin menunduk.
Teringat terakhir kali ia pamit untuk mencari sesuap nasi di kota ,pekerjaannya sejak berumur enam belas tahun..
Teringat ketika ia berpesan kepada mereka :mengungsilah kalau keadaan bertambah buruk, kalau awan mulai marah, kalau orang lain mulai mengungsi.
Tapi mengapa mereka tidak pergi?
Saat awan panas itu memporakporandakan desa tercinta mereka, seolah-olah mereka bisa menentang kemarahan alam yang sedang bergejolak.
Mengapa mereka bersikeras tetap tinggal di tempat yang mencederai mereka, mengapa?
Mengapa ia hanya bisa melihat mereka lewat televisi saat ia tidak bisa pulang ke rumah?
Menyaksikan mayat -mayat yang bergelimpanga dari desa tercintanya, dari keluarga tercintanya.
Perempuan tua itu tidak bisa dihentikan.
Ia tetap saja mencakari tanah dengan jari kurus yang sekarang kotor oleh abu, tanah dan darah.
Ia tidak ingin pergi
Ia ingin ada disisi tempat peti-peti terbaring.
Ia tidak ingin ditinggalkan dan meninggalkan mereka.
Gilakah ia?
Haruskah ada kata tanya itu?
No comments:
Post a Comment